Di Suruh Hidup Sama Teman
Batu yang keras dan besar dapat berlubang juga karena air yang selalu menetes di atasnya di setiap waktu, namun butuh waktu yang sangat lama. Bagaimana jika dilakukannya hanya seminggu sekali, maka akan butuh waktu yang lebih lama bukan? Tidak akan bisa batu keras dan besar itu ditetesin oleh air sekali saja maka lantas seketika batu itu harus berlubang, harus bolong dengan sempurna. Maka hargailah sebuah proses. Lantas bagaimana membuat batu keras dan besar dapat berlubang hanya dengan tetesan air? Ditetesin setiap minggu atau tidak sama sekali?
"Akhlak" dengan "Rutinitas(kewajiban setiap minggu karena telah bergabung)" tidak bisa dipaksa untuk berbanding lurus. Mungkin bisa saja, namun butuh waktu yang sangat lama. Terlebih lagi jika "Akhlak"-nya bawaan dari lahir, turunan dari orangtuanya.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya".
Waktu tadi malam aku pulang dari jalan bareng temen, aku liat laptop dan printerku dipinjem dipakai tanpa ijin. Seketika aku naik darah. Tapi aku cuman diem duduk disofa sambil mainan tab. Setelah beberapa menit, aku bilang ke nyokap "Kapan-kapan aku bilang iya?". Aku emang paling nggak suka barangku dipinjem tanpa ijin. Ternyata yang minjem printer dan laptopku itu nggak bisa mengoperasikannya, aku nggak mau bantu, karna aku kesel. aku masuk kamar, ada adek ku. aku emang nggak seneng sama adek ku yang ini, karena dia kebanyakan minjem, nggak mandiri dan suka minjam tanpa ijin, aku juga nggak suka orang yang nggak mandiri.
Aku masuk kamar karena bapakku ngajak jalan. Dan adek ku mau minjam jilbab lagi, nggak mandiri banget sih, percuma uang banyak tapi nggak bisa beli jilbab sendiri, aku udah muak dipinjemin terus. Alhasil aku marah lagi. Lalu mamaku diluar bilang "kenapasih ni anak dua kelahi terus, apa gerang maunya?". Aku diem dikamar ngecharge tab.
Lalu aku pindah ngecharge keluar kedepan tv diantara bapak dan mamaku. Percakapan yang terjadi adalah
Mama : "maumu apasih?"
Aku : "aku nggak suka barangku dipinjam-pinjam, apalagi tanpa ijin"
M : "sama temennya aja baiiiik betul, apa-apa dilakuinnya buat teman. tinggal sama temenmu aja sana"
A : "Iyaa"
M : "iya bisa kamu hidup sama temen?"
A : "bisa" (disini gue mikir, gue punya banyak temen, dan temen-temen ku pasti mau tinggal sama aku jadi aku nggak cemas hahaha)
M : "nggak usah punya keluarga aja kamu, percuma setiap minggu ikut-ikut gituan, hasilnya kayak gini kah, nggak ada yang berubah, atau emang yang diajarkan disana kayak gini? tinggal sama temenmu aja sana, bisa kan? nah pak biar dia tinggal sama temennya aja, gimana pak?"
(disini aku nahan nangis)
Bapakku diem aja, mungkin beliau nggak mau buat suasananya jadi tambah buruk. Selang beberapa lama, bapakku bilang ke adek ku yang cowok "ayo co kita aja jalan bedua". Akhirnya mereka bedua aja yang jalan. Aku masih duduk didepan tv sambil mainan tab, mamaku masuk kamar. Aku masih cekikikan chatingan sama temen-temen aku. Aku ceritakan semuanya ke mereka.
Aku mikir kalau aku keras kayak gini itu pasti keturunan mama bapakku, karna buah itu jatuh nggak jauh dari pohonnya. So, pasti diantara mereka ada yang kayak aku dong. Lalu kenapa maksa anaknya jadi baik seketika? kalau mau menghasilkan bibit yang baik, perbaikilah diri terlebih dahulu, menurut aku sih seperti itu. Kalaupun mau ngerubah, butuh waktu yang lama. Apalagi di proses perubahan itu tetap hidup di lingkungan yang orang-orangnya keras, susah.
Komentar
Posting Komentar